Sunday, April 06, 2008

Tugas ERP

KNOWLEDGE MANAGEMENT DAN HUBUNGANNYA DENGAN ERP SERTA CONTOH PENERAPANNYA PADA INDUSTRI ANIMASI


Nama: Helmi Maulia Ridhani
NPM: 1.413.005, Angkatan: XIV
Mata Kuliah: Enterprise and Resources Planning
Dosen: Dr. Harjanto Prabowo, Ir., MM


MAGISTER MANAGEMENT
UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2008

PENDAHULUAN

Dunia animasi mulai merambah keseluruh dunia, sejak penampilan pertamanya yang dibuat oleh Disney. Dan kini pun memasuki dunia entertaiment dalam negeri kita. Film seperti Doraemon dan Dragonballs sudah tidak asing lagi kita dengar. Film animasi ini memiliki penggemarnya mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Namun begitu hal yang sebaliknya justru terjadi pada animasi buatan dalam negeri, seperti tidak banyak memperlihatkan kemampuannya. Hal utama yang mendasari hal tersebut adalah mahalnya memproduksi film animasi. Hal ini juga diperparah dengan sistem televisi yang masih menyamaratakan pola untuk produksi sinetron dan reality show dengan untuk produksi animasi. Ada beberapa yang lebih memilih memproduksinya sendiri animasi tersebut dan memasarkannya melalui VCD atau DVD.
Kualitas animasi dalam negeri tidak kalah dengan animasi luar negeri. Begitu pun untuk unsur cerita, banyak insan Indonesia yang memiliki kreativitas cerita yang tidak kalah dengan animasi luar, bisa jadi bahkan lebih baik. ERP dan Knowledge Management bisa dikembangkan untuk Industri Animasi ini dan sudah ada yang mengembangkannya, contohnya Toei Animation Co. Dan industri ini bisa dijadikan contoh untuk perkembangan Industri Animasi di Indonesia.
Dengan adanya ERP dan Knowledge Management diharapkan bahwa:
1. Industri Animasi di Indonesia dapat berkembang dengan baik dan memiliki kualitas yang tidak kalah dengan Industri Animasi luar negeri.
2. Menekan biaya produksi, sehingga kemungkinan untuk menampilkannya dalam televisi lokal akan semakin besar.
3. Kejelasan dalam penentuan rating usia yang diberikan oleh produsen animasi bersama stasiun televisi yang menayangkan animasi tersebut. Hal ini untuk memenuhi konsumsi untuk setiap konsumen berbeda.
4. Adanya pembelajaran untuk semua pihak, terutama konsumen dalam menyikapi tayangan animasi yang baik bagi semua pihak.
5. Meningkatkan lapangan kerja baru dengan adanya Industri Animasi di Indonesia








ISI
Knowledge Management

Knowledge Management (KM), bisa kita artikan dengan manajemen pengetahuan. Apakah itu manajemen pengetahuan? Manajemen ialah suatu cara untuk merencanakan, mengumpulkan dan mengorganisir, memimpin dan mengendalikan sumber daya untuk suatu tujuan. Sedangkan pengetahuan adalah data dan informasi yang digabung dengan kemampuan, intuisi, pengalaman, gagasan, motivasi dari sumber yang kompeten. Sumber pengetahuan bisa berupa banyak bentuk, misalnya: koran, majalah, email, e-artikel, mailing list, e-book, kartu nama, iklan, dan manusia. Jadi untuk pengertian manajemen pengetahuan adalah merencanakan, mengumpulkan dan mengorganisir, memimpin dan mengendalikan data dan informasi yang telah digabung dengan berbagai bentuk pemikiran dan analisa dari macam-macam sumber yang kompeten. Menurut www.km-forum.org, KM adalah suatu disiplin ilmu yang digunakan untuk meningkatkan performa seseorang atau organisasi, dengan cara mengatur dan menyediakan sumber ilmu yang ada saat ini dan yang akan datang. Jadi KM bukanlah suatu fenomena baru, tetapi merupakan suatu cara yang menerapkan integrasi antara teknologi dengan sumber pengetahuan yang kompeten. Mengatur suatu pengetahuan adalah suatu kebiasaan atau habit. Ketika suatu proses, keadaan dan aktivitas suatu bisnis para pelaku KM cenderung menggunakan suatu metode dalam menganalisanya. Dalam proses analisa terdapat sesuatu yang dinamakan siklus/aliran pengetahuan (knowledge flow).

Sumber yang lain mengatakan bahwa:
Knowledge Management (KM) adalah suatu aplikasi yang dirancang lengkap dengan kebutuhan atau solusi untuk manajemen pengetahuan. Dimana KM ini sebagai aplikasi yang dapat menyilangkan atau menyatukan sumber data, dan juga dapat mengumpulkan seluruh dokumen dari berbagai organisasi menjadi satu wadah. Knowledge Management terdiri dari jarak latihan yang biasa digunakan oleh organisasi untuk mengidentifikasi, menciptakan, mewakili, dan mendistribusikan pengetahuan. Program Knowledge Management terikat khusus dengan tujuan organisasi seperti pelaksanaan peningkatan , inovasi keunggulan kompetitif, transfer pembelajaran (contohnya antara proyek) dan pengembangan utama latihan kolaborasi.

Bila hal ini ada dalam organisasi, maka:
Manajemen pengetahuan (Bahasa Inggris: knowledge management) adalah suatu rangkaian kegiatan yang digunakan oleh organisasi untuk mengidentifikasi, menciptakan, menjelaskan, dan mendistribusikan pengetahuan untuk digunakan kembali, diketahui, dan dipelajari di dalam organisasi. Kegiatan ini biasanya terkait dengan objektif organisasi dan ditujukan untuk mencapai suatu hasil tertentu seperti pengetahuan bersama, peningkatan kinerja, keunggulan kompetitif, atau tingkat inovasi yang lebih tinggi.

Sederhananya, knowledge management merupakan sebuah sistem database berbasis web yang berguna dalam mengelola seluruh pengetahuan yang dimiliki oleh perusahaan dan pegawainya. Mengelola disini tidak sebatas menyimpan, namun juga menciptakan budaya pembelajaran di lingkungan karyawan melalui proses pertukaran pengetahuan. Sehingga, akan memudahkan karyawan dalam melakukan pembelajaran secara mandiri dan memudahkan dalam memberikan solusi bagi masalah-masalah yang dihadapinya maupun yang dihadapi pelanggan.

Dengan begitu, maka proses peningkatan knowledge seluruh karyawan tidak memakan biaya besar dan waktu yang lama. Dan secara perlahan tapi pasti, budaya pembelajaran akan semakin tumbuh di lingkungan perusahaan. Alhasil, perusahaan pun bisa percaya diri berkompetisi untuk menjadi yang terbaik.

Contoh baru-baru ini yang paling menarik adalah IBM. Pada akhir tahun 2000, pertumbuhan perusahaan yang terkenal dengan bisnis personal computer (PC) dan semikonduktor itu terus merugi. Namun, pada akhir tahun 2005, IBM mencatatkan pendapatan perusahaan yang luar biasa. Earning per share IBM menjadi 4,87 dollar US pada tahun 2005.

Lalu, apa kuncinya sehingga IBM berhasil kembali menjadi perusahaan yang sangat menguntungkan? Ternyata, salah satu yang dilakukan IBM adalah dengan membangun motivasi karyawan dan menciptakan kompetensi karyawannya melalui penerapan knowledge management. IBM percaya bahwa dengan peningkatan motivasi dan kompetensi karyawan yang signifikan, maka perusahaan akan bisa menciptakan produk dan solusi bagi pelanggannya.

Di Indonesia, setidaknya ada beberapa perusahaan yang telah menerapkan knowlegde management. Di antaranya adalah PLN, UTE Pandu engineering selaku anak perusahaan United Tractor, dan Wijaya Karya. Alasan yang dikemukakan perusahaan-perusahaan tersebut hampir sama, yakni untuk menciptakan budaya pembelajaran dan mempermudah penciptaan solusi, yang pada akhirnya mampu meningkatkan kapitalisasi perusahaan.

Dalam sistem knowledge management, setidaknya ada tiga proses yang harus dilakukan. Proses pertama adalah eksplorasi, yaitu melakukan pemetaan dalam organisasi mengenai knowledge yang dimiliki oleh setiap divisi, baik yang berhubungan dengan sumber daya manusia, produk, pasar, maupun pelanggan. Dengan begitu, maka akan mudah dilakukan proses pencarian dan pengumpulan seluruh pengetahuan yang dimiliki perusahaan maupun pengetahuan yang dikuasai oleh tiap pegawai.

Kedua, proses pembelajaran. Pada tahap ini dilakukan cara memanfaatkan pengetahuan tersebut secara maksimal. Bisa dengan pertukaran antar individu maupun secara perorangan. Atau, bisa dilakukan melalui forum interaktif untuk berbagi pengetahuan secara online. Pada tahap ini, akan tercipta budaya pembelajaran yang semakin lama semakin kuat. Kenapa? Karena pada dasarnya setiap orang haus akan informasi dan pengetahuan. Akibatnya, perusahaan pun akan semakin kaya akan orang-orang yang kuat pengetahuannya.

Ketiga, proses mencari dan menciptakan pengetahuan baru. Tahap ini akan terjadi bila telah terjadi budaya pembelajaran yang kuat dalam perusahaan. Dan juga, kumpulan knowledge yang sebelumnya dimiliki perusahaan dalam sistem knowledge management tidak lagi mencukupi. Sehingga, tiap orang dalam perusahaan akan berusaha untuk mencari dan menemukan pengetahuan yang baru. Alhasil, kumpulan pengetahuan dalam sistem knowlegde management menjadi terus berkembang yang pada akhrinya akan menjadi sumber pengetahuan perusahaan yang lengkap dan update atau terus diperbaharui.
Pengetahuan, menurut Davenport merupakan perpaduan yang cair dari pengalaman, nilai, informasi kontekstual, dan kepakaran yang memberikan kerangka berfikir untuk menilai dan memadukan pengalaman dan informasi baru. Ini berarti bahwa pengetahuan berbeda dari informasi, informasi jadi pengetahuan bila terjadi proses-proses seperti pembandingan, konsekwensi, penghubungan, dan perbincangan. Pengetahuan dapat dibagi ke dalam empat jenis yaitu a). pengetahuan tentang sesuatu; b) pengetahuan tentang mengerjakan sesuatu,; c). pengetahuan menjadi diri sendiri; dan d). pengetahuan tentang cara bekerja dengan orang lain. Sedang tingkatan pengetahuan dapat dibagi tiga yaitu : 1) mengetahui bagaimana melaksanakan; 2). Mengetahui bagaimana memperbaiki; dan 3). Mengetahui bagaimana mengintegrasikan.

Dengan pemahaman pengetahuan seperti itu, maka manajemen pengetahuan dapat didefinisikan sebagai berikut : “proses menterjemahkan pelajaran yang dipelajari, yang ada dalam diri/pikiran seseorang menjadi informasi yang dapat digunakan setiap orang”. Dalam konteks ini profesional SDM memandang manajemen pengetahuan sebagai menjamin penngetahuan yang diperoleh dikembangkan bersama dengan orang lain dalam organisasi. Dengan demikian, pengetahuan yang dimiliki organisasi secara penuh tersedia melalui penyediaan lingkungan yang tepat, budaya, struktur dan proses guna memotivasi dan mendorong sharing pengetahuan pada setiap tingkat dalam organisasi. Jadi tema utama dari manajemen pengetahuan adalah sebagai berikut :
o Pembelajaran
o Pengembangan/sharing
o Penempatan orang di tempat yang tepat dan waktu yang tepat
o Pembuatan keputusan yang efektif
o Kreativitas
o Membuat pekerjaan jadi lebih mudah
o Mendorong tumbuhnya bisnis baru dan nilai bisnis

Adapun tahapan perkembangan manajemen pengetahuan dalam organisasi adalah sebagai berikut :
o Knowledge-chaotic (tak sadar konsep, tak ada proses informasi, dan tak ada sharing informasi)
o Knowledge-aware (sadar akan kebutuhan manajemen pengetahuan, adabeberapa proses manajemen pengetahuan, ada teknologi, ada isu tentang sharing informasi)
o Knowledge-enabled (memanfaatkan manajemen pengetahuan, mengadopsi standar, isu-isu berkaitan dengan budaya dan teknologi)
o Knowledge-managed (kerangka kerja yang terintegrasi, merealisasikan manfaat, isu-isu pada tahap sebelumnya teratasi)
o Knowledge-centric (manajemen pengetahuan merupakan bagian dari misi, nilai pengetahuan diakui dalam kapitalisasi pasar, manajemen pengetahuan terintegrasi dalam budaya)

Bagi organisasi yang ingin menerapkan manajemen pengetahuan dalam organisasinya perlu menyadari pertama, bahwa pengetahuan ada pada orang dan bukan pada sistem, meskipun sistem punya data dan informasi yang dapat membantu proses pengetahuan. Kedua, penciptaan pengetahuan merupakan proses sosial, tercipta melalui interaksi antara individu-individu dalam kehidupan sehari-hari mereka.






ERP (Enterprise Resource Planning) System
ERP (Enterprise Resource Planning) System adalah sistem informasi yang diperuntukkan bagi perusahaan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan. ERP berkembang dari Manufacturing Resource Planning (MRP II) dimana MRP II sendiri adalah hasil evolusi dari Material Requirement Planning (MRP) yang berkembang sebelumnya. Sistem ERP secara modular biasanya menangani proses manufaktur, logistik, distribusi, persediaan (inventory), pengapalan, invoice dan akunting perusahaan. Ini berarti bahwa sistem ini nanti akan membantu mengontrol aktivitas bisnis seperti penjualan, pengiriman, produksi, manajemen persediaan, manajemen kualitas dan sumber daya manusia.
ERP sering disebut sebagai Back Office System yang mengindikasikan bahwa pelanggan dan publik secara umum tidak dilibatkan dalam sistem ini. Berbeda dengan Front Office System yang langsung berurusan dengan pelanggan seperti sistem untuk e-Commerce, Costumer Relationship Management (CRM), e-Government dan lain-lain.

Modul ERP
Secara modular, software ERP biasanya terbagi atas modul utama yakni Operasi serta modul pendukung yakni Finansial dan Akunting serta Sumber Daya Manusia:
1. Modul Operasi
General Logistics, Sales and Distribution, Materials Management, Logistics Execution, Quality Management, Plant Maintenance, Customer Service, Production Planning and Control, Project System, Environment Management.
2. Modul Financial & Akuntansi
General Accounting, Financial Accounting, Controlling, Investment Management, Treasury, Enterprise Controlling.
3. Modul Sumber Daya Manusia
Personnel Management, Personnel Time Management, Payroll, Training and Event Management, Organizational Management, Travel Management.

Manfaat Menggunakan ERP
Berikut ini adalah sebagian kecil manfaat dengan diaplikasikannya ERP bagi perusahaan:
1. Integrasi data keuangan
Untuk mengintegrasikan data keuangan sehingga top management bisa melihat dan mengontrol kinerja keuangan perusahaan dengan lebih baik.
2. Standarisasi Proses Operasi
Menstandarkan proses operasi melalui implementasi best practice sehingga terjadi peningkatan produktivitas, penurunan inefisiensi dan peningkatan kualitas produk.
3. Standarisasi Data dan Informasi
Menstandarkan data dan informasi melalui keseragaman pelaporan, terutama untuk perusahaan besar yang biasanya terdiri dari banyak business unit dengan jumlah dan jenis bisnis yg berbeda-beda.

Tips memilih ERP
Berikut adalah beberapa tips bagaimana cara memilih ERP yang sesuai bagi perusahaan:
1. Knowledge & Experience
Knowledge adalah pengetahuan tentang bagaimana cara sebuah proses seharusnya dilakukan, jika segala sesuatunya berjalan lancar. Experience adalah pemahaman terhadap kenyataan tentang bagaimana sebuah proses seharusnya dikerjakan dengan kemungkinan munculnya permasalahan. Knowledge tanpa experience menyebabkan orang membuat perencanaan yang terlihat sempurna tetapi kemudian terbukti tidak bisa diimplementasikan. Experience tanpa knowledge bisa menyebabkan terulangnya atau terakumulasinya kesalahan dan kekeliruan karena tidak dibekali dengan pemahaman yg cukup.
2. Selection Methodology
Ada struktur proses seleksi yang sebaiknya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dalam memilih ERP. Proses seleksi tidak harus selalu rumit agar efektif. Yang penting organized, focused dan simple. Proses seleksi ini biasanya berkisar antara 5-6 bulan sejak dimulai hingga penandatanganan order pembelian ERP. Berikut ini adalah akivitas yg sebaiknya dilakukan sebagai bagian dari proses pemilihan software ERP: analisa strategi bisnis, analisa sumber daya manusia, analisa infrastruktur dan analisa software.
3. Analisa Business Strategy
- Bagaimana level kompetisi di pasar dan apa harapan dari customers?
- Adakah keuntungan kompetitif yang ingin dicapai?
- Apa strategi bisnis perusahaan dan objectives yang ingin dicapai?
- Bagaimana proses bisnis yang sekarang berjalan vs proses bisnis yang diinginkan?
- Adakah proses bisnis yang harus diperbaiki?
- Apa dan bagaimana prioritas bisnis yang ada dan adakah rencana kerja yang disusun untuk mencapai objektif dan prioritas tersebut?
- Target bisnis seperti apa yang harus dicapai dan kapan?
4. Analisa People
- Bagaimana komitment top management thd usaha untuk implementasi ERP?
- Siapa yg akan mengimplementasikan ERP dan siapa yg akan menggunakannya?
- Bagaimana komitmen dari tim implementasi?
- Apa yg diharapkan para calon user thd ERP?
- Adakah ERP champion yg menghubungkan top management dgn tim?
- Adakah konsultan dari luar yg disiapkan untuk membantu proses persiapan?
5. Analisa Infrastruktur
- Bagaimanakah kelengkapan infrastruktur yang sudah ada (overall networks, permanent office systems, communication system dan auxiliary system)?
- Seberapa besar budget untuk infrastruktur?
- Apa infrastruktur yang harus disiapkan?
6. Analisa Software
- Apakah software tsb cukup fleksibel dan mudah disesuaikan dengan kondisi perusahaan?
- Apakah ada dukungan service dari supplier, tidak hanya secara teknis tapi juga untuk kebutuhan pengembangan sistem di kemudian hari?
- Seberapa banyak waktu untuk implementasi yg tersedia?
- Apakah software memiliki fungsi yang bisa meningkatkan proses bisnis perusahaan?

Implementasi ERP
Berikut ini adalah ringkasan poin-poin yg bisa digunakan sebagai pedoman pada saat implementasi ERP:
1. ERP adalah bagian dari infrastruktur perusahaan, dan sangat penting untuk kelangsungan hidup perusahaan. Semua orang dan bagian yang akan terpengaruh oleh adanya ERP harus terlibat dan memberikan dukungan terhadap jalannya ERP.
2. ERP ada untuk mendukung fungsi bisnis dan meningkatkan produktivitas, bukan sebaliknya. Tujuan implementasi ERP adalah untuk meningkatkan daya saing perusahaan.
3. Pelajari kesuksesan dan kegagalan implementasi ERP, jangan berusaha membuat sendiri praktek implementasi ERP. Ada metodologi tertentu untuk implementasi ERP yang lebih terjamin keberhasilannya.

Penyebab Gagalnya ERP
- Waktu dan biaya implementasi yang melebihi anggaran
- Pre-implementation tidak dilakukan dengan baik
- Strategi operasi tidak sejalan dengan business process design dan pengembangannya
- Orang-orang tidak disiapkan untuk menerima dan beroperasi dengan sistem yang baru

Tanda-tanda kegagalan ERP
Kegagalan ERP biasanya ditandai oleh adanya hal-hal sebagai berikut:
- Kurangnya komitmen top management
- Kurangnya pendefinisian kebutuhan perusahaan (analisa strategi bisnis)
- Cacatnya proses seleksi software (tidak lengkap atau terburu-buru memutuskan)
- Kurangnya sumber daya (manusia, infrastruktur dan modal)
- Kurangnya ‘buy in’ sehingga muncul resistensi untuk berubah dari para karyawan
- Kesalahan penghitungan waktu implementasi
- Tidak cocoknya software dgn business process
- Kurangnya training dan pembelajaran
- Cacatnya project design & management
- Kurangnya komunikasi
- Saran penghematan yang menyesatkan

Software ERP
Berikut adalah software ERP yang saat ini beredar, baik yang berlisensi bayar maupun open source:
- SAP
- JDE
- BAAN
- MFGPro
- Protean
- Compiere
- Adempiere

Hubungan Knowledge Management dengan ERP
Cooperative ERP Life Cycle KM
Strategic alliances between ERP software vendors, their implementation partners and clients, for knowledge sharing and integrated knowledge management across the ERP life-cycle, hold promise for leveraging scarce expertise and human resources, thereby streamlining implementation and promoting growth of the market. This industry-academe collaborative study aims to account for existing knowledge management facilities, approaches and technology; explore alternative responsibility and role sharing scenarios; define a broad system architecture; and propose strategies to promote the framework across ERP vendors, their clients and partners.

Knowledge management emphasizes those aspects of information management that require the corporate memory of an enterprise be captured within the framework of a knowledge culture and in such a way that knowledge builds upon an organised database infrastructure directed to enhance decision making and planning (Broadbent 1997; Quintas et al 1997). Important areas of knowledge in relation to the ERP lifecycle include: business processes, ERP customisation, organisation design, organisation culture, IT infrastructure and architecture, project management and project resources, and related key decisions and their rationale. An integrated ERP Life-cycle Knowledge Management Framework taking account of the unique regional context and spanning the key players, is expected to offer significant potential for improvement in ERP life-cycle support.
Jadi Knowledge Management memiliki peranan penting terutama untuk mempertinggi dalam membuat keputusan dan perencanaan serta dalam kerangka yang terintegrasi ERP Life-cycle Knowledge Management untuk memberikan potensi yang signifikan untuk pengembangan dalam mendukung ERP life-cycle.
Setiap informasi dari berbagai organisasi dipisahkan oleh tempat atau lokasi organisasi yang berjauhan dan terkumpul dengan berbagai bentuk atau tampilan. Yang kebanyakan dari dokumen tersebut tidak terstruktur informasinya seperti file, pesan-pesan, surat-menyurat, laporan, dll, dimana sebagian dari yang lainnya menggunakan sistem database, CRM dan paket ERP, serta penyimpanan data resmi. Knowledge Management dapat diubah menjadi aplikasi pengetahuan dengan cara memasukkan semua informasi dengan konteks dan memastikan bahwa informasi yang dibuat dikirim ke tujuan/pengguna lain dengan waktu yang tepat.

Animasi
Animasi, atau lebih akrab disebut dengan film animasi, adalah film yang merupakan hasil dari pengolahan gambar tangan sehingga menjadi gambar yang bergerak. Pada awal penemuannya, film animasi dibuat dari berlembar-lembar kertas gambar yang kemudian di-"putar" sehingga muncul efek gambar bergerak. Dengan bantuan komputer dan grafika komputer, pembuatan film animasi menjadi sangat mudah dan cepat. Bahkan akhir-akhir ini lebih banyak bermunculan film animasi 3 dimensi daripada film animasi 2 dimensi.

Contoh Penerapan ERP, Knowlegde Management dalam Industri Animasi
Kendala yang paling umum dalam pembuatan film animasi adalah kendala biaya. Penjelasan tentang hal ini dapat kita lihat dari kutipan berikut:
Dari segi kualitas, hasil karya animator kita tak kalah dengan animasi luar. Mereka bahkan kerap mendapat job pembuatan karakter-karakter dari studio animasi besar dari Amerika, atau Jepang. Bayaran yang diterima cukup menggiurkan. Sayangnya, karena job-job itu bersifat parsial dan atas pesanan, sulit bagi mereka mengklaim royalty hak cipta. Jika proyek selesai, jual putus, maka terbanglah karakter karya anak negeri itu ke luar negeri. Setelah karakter-karakter itu diramu menjadi serial film animasi, pengelola televisi kita berebut memperoleh hak tayangnya. Ketika sudah tayang di sini, animator lokal yang turut ambil bagian dalam penciptaan karakter dalam serial itu, hanya bisa menatapnya dengan hati miris.

Sebenarnya, ada satu dua stasiun televisi yang sudah mencoba merekrut artis-artis animasi lokal untuk bergabung dalam tim produksi mereka. Namun, artis-artis tersebut tak pernah diberi job independen untuk membangun sebuah serial animasi. Alasan klasik selalu mengemuka ketika rencana pembuatan film animasi diutarakan para animator. Mahal!

Pengalaman ini pernah dirasakan Deswara Aulia Subarkah - biasa disapa Adez. Menurut dia, sejak dulu film-film animasi karya anak negeri tidak pernah muncul di pertelevisian nasional karena terbatasnya daya beli stasiun televisi. Stasiun televisi nasional yang ada sekarang sudah terbiasa dengan pola yang terbentuk mengacu pada produksi sinetron dan reality show. "Acara kayak gitu budget produksinya kira-kira 20 juta untuk sebuah reality show, sinetron sekitar 50-60 juta per episodenya. Sistemnya pun kejar tayang, seminggu satu episode bahkan ada yang lebih. Pola ini sudah bertahun-tahun dijalankan, sampai akhirnya menjadi semacam pattern bagi orang-orang teve," katanya.

Pola yang sama tidak bisa diterapkan pada produksi film animasi. Tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi. Untuk satu episode film animasi saja, seorang animator membutuhkan waktu satu bulan. Itupun kalau story board, naskah, dubbing, modeling, rigging, dan komponen lainnya sudah prepared. "Jadi, untuk membuat itu semua dibutuhkan waktu sekitar satu tahun. Satu bulan itu hanya untuk produksi per episodenya saja," jelas Adez. Jika ingin menerapkan sistem kejar tayang, seperti diberlakukan industri animasi di Jepang yang menghasilkan satu episode seminggu, dibutuhkan tenaga animator sebanyak 600 orang. Biayanya tentu berlipat-lipat lagi karena dengan pola satu episode sebulan saja dibutuhkan animator sebanyak 30-50 orang.

Lalu, kenapa film animasi Jepang harganya bisa murah? Karena produk mereka dijual ke semua negara. Jika ditilik lebih dalam lagi, ternyata yang dijual itu bukan film animasinya. Film animasi sering dijadikan sebagai bagian dari promosi sebuah produk, dimana umumnya 10% dana dipakai untuk berpromosi. "Budget inilah yang lazimnya dipakai oleh mereka untuk membuat sebuah program film animasi," kata Adez.
Jurus sukses perusahaan Jepang ini menjadi runutan. Sebuah perusahaan animasi di Jakarta, Red Rocket, menerapkan pola pencarian sponsor produk utama untuk membiayai pembuatan film animasi. Perusahaan ini menggandeng produsen susu merek Dancow. Tahun 2000 lalu film animasi mereka yang mengangkat cerita rakyat pernah ditayangkan di Indosiar. Dan, di tahun ini film animasi mereka kembali tayang di TV7.

Menurut Popy Palele, Eksecutive Producer Red Rocket, film animasi bikinannya sukses meraih rating di Indosiar, lebih tinggi ketimbang film animasi lain yang tayang pada jam sama di stasiun televisi lain. "Di awal penayangan sih memang belum kelihatan rating-nya. Setelah episode kelima dan seterusnya, rating-nya mulai kelihatan. Kalau tidak salah, mengalahkan film Doraemon yang jam tayangnya sama," kata Popy. Beberapa judul film animasi sudah dibuat Red Rocket, diantaranya Si Kurus Don Harimau Loreng, Keadilan Seorang Raja, Kancil Dan Kerbau, dan Palosoro Si Lembut Hati. Judul-judul itu diambil dari judul buku cerita yang sebelumnya dijadikan bonus pembelian produk susu Dancow.

Sukses Red Rocket itu tak terlepas dari dukungan Nestle. Popy jujur mengakui bahwa tanpa dukungan dana dari perusahaan multinasional itu, mustahil baginya membuat film animasi yang berbobot. Biaya yang dibutuhkan tidak dapat ditutupi oleh hasil penjualan ke stasiun televisi.

Senada dengan Adez, Popy bisa memahami alasan pengelola televisi kita membeli film animasi produk luar negeri. Gampangnya, dengan Rp. 5 juta-an stasiun televisi sudah bisa mendapatkan satu episode film animasi. Jika memproduksi sendiri, biaya yang dikeluarkan bakal lebih 10 kali lipat. "Sekali produksi untuk satu episode saja para animator bisa menghabiskan biaya sebesar Rp. 75 juta," kata Popy.

Dengan menggunakan ERP, industri animasi lokal kita bisa menekan biaya, sehingga bisa ditayangkan di stasiun televisi kita. Sistem ini sudah mulai berjalan pada industri media and entertainment Toei Animation, berikut kutipannya:

Case Study

From the early 1960s, Toei Animation Company Limited has produced and sold animated TV movies. Films such as “The Secrets of Akkochan,” “Candy Candy,” Dragonball” and “Sailormoon” have helped the company grow, with an exceptionally strong back catalogue. The company now holds more than 8,600 titles, the largest collection in Japan and possibly worldwide.

Managing the digital archive
As well as managing this large digital inventory, Toei Animation also wanted a system capable of handling copyrights payments. Toei Animation operates globally, with increasing sales in North America, and the system would also be required to cope with International Accounting Standards (IAS). Sales of other digital media, delivered on DVD and over the Internet, are expanding rapidly, and the company wanted to introduce an earnings management system for use with this increasingly diversified copyright business.

Mr Toshi Yoshitani, Department Manager, Information Systems, Toei Animation, explains: “Toei Animation wants to increase overseas sales to more than 50 per cent. The existing accounting system could not cope with globalization, such as foreign currency conversion and IAS, and our first steps were to address these issues.

“Next, we considered management of copyright fees. Calculating the allocation of the correct copyright fees to the owner is complicated: differences in percentages of fees are allotted depending on usage, and each fee due is different. Finally, there are also annual earnings and lifetime earnings for each of the digital assets. For companies selling physical items, finances are managed on the basis of merchandise and customers. In the case of digital contents, it becomes necessary to manage earnings based on a matrix. This matrix combines a time axis that crosses over accounting years, a regional axis by country, and a sales axis for each media type.”

Multicurrency, multilanguage support
“One requirement was to look at sales data for all products in real time, across multiple geographies – part of our ambition to expand the proportion of overseas sales. This would also require a multi-lingual, multi-currency ERP package conforming to international standards, and capable of foreign currency conversion,” comments Toshi Yoshitani.

Toei Animation considered various ERP packages from major vendors, and selected mySAP ERP from SAP®, based on implementation examples and demonstrations of the scalability of the solution. Toei Animation selected to run a single, central instance of the SAP solutions on IBM iSeries servers, taking advantage of very high reliability and low total costs of ownership

Ms Yoshiko Hirakawa, Information Systems Department, comments, “The original recommendation was to use PC servers; we had been operating AS/400 systems [the predecessors to iSeries servers] for close to 20 years which attested to its reliability. Since this is a mission-critical system, the number one fear is viruses. The iSeries server is equipped with high-level security functions, another very important business feature for Toei Animation.”

Mr Toshi Yoshitani continues with the decisive factors for introducing iSeries: “We compared the PC server and iSeries, and computed the TCO over five years. Toei Animation concluded that running SAP solutions on iSeries offered us the best value proposition for reliability, scalability and low TCO. We looked hard at the future, the skills at Toei Animation, and unseen costs of PC systems, and judged the iSeries as advantageous and selected it.”

Effectiveness of the introduction

The new iSeries and SAP solution makes it possible for Toei Animation to compare actual versus forecasted sales through real-time linkage of sales data and accounts.
Mr Toshi Yoshitani comments, “The iSeries is divided into three logical partitions (LPARs): development, production, and test environments. Each LPAR is operated simultaneously, with workload shared to offer maximum performance, and the high availability of the iSeries server has helped us raise our productivity.”

Ms Yoshiko Hirakawa says, “Compared with the previous system, accounts information is exceptionally easy to obtain, with full drill-down. Based on real-time input, on-demand management of revenue and expenditure can be realized by work, business, customer, and country. In addition, the calculations of copyright earnings allotted can also be automated, and real-time linkage to individual accounts is also possible.”

Furthermore, the new functions have improved staff awareness of what is possible, says Toshi Yoshitani. “With the advent of demands for real time data, we have noticed a change in culture towards a business with a sense of speed. As contracts for copyright fees were registered on the system, there was also the unexpected effect of strengthening compliance awareness of contracts.”

Integration for better decision making

Integrating the existing products information database with the copyright database is a pending issue, as Ms Yoshiko Hirakawa explains: “Presently, a product information server called ‘the multimedia database’ is operating, but the status of information related to copyright owners is incomplete. The possibility of integrating this information into a single database is being examined.”

The creation of a data warehouse with this information will then be used for earnings analysis and decision making support, through the addition of business intelligence components in SAP NetWeaver.

Dan tentu saja Knowledge Management dibutuhkan dalam hal ini, selain untuk memperkuat pelaksanaan ERP, lebih penting lagi adalah kejelasan dari produsen melalui stasiun televisi kepada konsumen film animasi dalam memilih film animasi yang baik dan disesuaikan dengan tingkat umur dan kedewasaan di Indonesia. Dengan begitu kemampuan memproduksi animasi di Indonesia diharapkan semakin berkembang.

PENUTUP
Memang Industri Animasi belum banyak dikembangkan di Indonesia. Kendala utama adalah masalah keuangan. Begitu pula dengan masalah Knowledge Management khususnya dari produsen kepada konsumen berkenaan dengan sistem rating yang masih belum jelas, merupakan hal perlu diperhatikan dengan baik, karena hal ini mengacu pada perkembangan generasi muda yang ada. Memang isi dari paper ini jauh dari sempurna, namun penulis berharap perkembangan animasi di Indonesia semakin meningkat. Dengan adanya ERP dan Knowledge Management diharapkan dapat mengatasi berbagai persoalan yang terjadi dalam Industri Animasi di Indonesia.


REFERENSI :
1. http://en.wikipedia.org/wiki/Knowledge_management
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Animasi
3.http://www.kmworld.com/Articles/Editorial/Feature/ERP-vendors-embrace-knowledge-management-9185.aspx
4.http://www.kmworld.com/Articles/Editorial/Feature/Knowledge-transfer-is-critical-to-ERP-success-9092.aspx
5. http://www.itps.fit.qut.edu.au/projects/erp_lifecycle.jsp
6.http://rsteve.sitompul.net/index.php?/archives/210-ERP-Solusi-Terpadu-Sistem-Informasi.html
7. http://www.ebizzasia.com/0109-2003/q&a,0109.htm
8.http://www.oursmartoffice.com/publicportal.cgi?.ucid=3708&diff=1101989102&.pmid=1&.mid=114
9. http://en.wikipedia.org/wiki/Enterprise_resource_planning
10. http://www.systems-thinking.org/kmgmt/kmgmt.htm
11.http://www.wirausaha.com/bisnis/manajemen/seberapa_pentingkah_knowledge_management_bagi_ukm.html
12.http://209.85.175.104/search?q=cache:cXEgPTdFn6IJ:www.klasiber.net/file.php/1/Brosur_TK_KM.pdf+knowledge+management&hl=id&ct=clnk&cd=4&gl=id
13. http://veegraph.com/index.php?option=com_content&task=view&id=59&Itemid=1
14. http://veegraph.com/index.php?option=com_content&task=view&id=60&Itemid=33
15. http://www.ilmukomputer.org/wp-content/uploads/2006/09/bse-kmiptek.pdf.
16. http://uharsputra.wordpress.com/artikel/manajemen-pengetahuan/
17.http://tpers.net/wp-content/uploads/2007/12/managemen-pengetahuan-dalam-organisasi-belajarposting.rtf
18. http://www.epistemics.co.uk/Notes/40-0-0.htm
19.http://209.85.175.104/search?q=cache:a-Bpj6O6nyUJ:www.lib.ui.edu/files/Arip_Muttaqien.pdf+knowledge+management&hl=id&ct=clnk&cd=6&gl=id
20. http://www.ebizzasia.com/0111-2003/q&a,0111.htm
21. http://www.stieperbanas.ac.id/pusatkajian/ebusiness/
22. http://www.sony-ak.com/articles/1/pengantar_km_haitan.php
23. http://yanuar.kutakutik.or.id/around-the-world/kisah-erp/
24. http://www.erpweaver.com/index.php?option=com_content&task=view&id=12&Itemid=1
25. http://www.ebizzasia.com/0215-2004/q&a,0215.html
26.https://www-304.ibm.com/software/success/cssdb.nsf/CS/DNSD-6GTGVL?OpenDocument&Site=gicss67erp&cty=en_us
27. http://eddynurmanto.unpad.ac.id/?cat=13
28. http://erwin-sutomo.blogspot.com/2005/10/manajemen-pengetahuan.html
29. http://en.wikipedia.org/wiki/Animation
30. http://www.jetro.go.jp/en/market/report/pdf/2005_35_r.pdf

Tugas ERP

Tugas ERP
Enterprise and Resource Planning

1. Pada tabel 1, tingkatan proses dan kemampuan teknis yang diperlukan dalam melakukan implementasi ERP pada organisasi adalah:
o ERP’s contribution to business vision and strategy
o Alightment of business and technology strategy
o Flexibility and scalability of IT architecture
o Flexibility and adaptability of ERP solution to changing conditions
o Integration of business information processes
o Identification of the various components and magnitude of project’s risk
o Impact of ERP on the decision making process
o Impact of ERP on cooperative business networks

2. Dalam pengembangan ERP, pilihan kustomisasi sesuai dengan kebutuhan konsumen tidak disarankan, karena:
o Customisation is costly
o Time consuming
o Difficult and usually requires experiencied external software
o Its evaluation is also complex and continuous
o Life long commitment

3. Jika akan melakukan implementasi ERP pada organisasi:
Impact of ERP on:
o Transactions costs: jika dengan adanya ERP, akan menurunkan biaya penjualan.
o Time to complete transactions: jika dengan adanya ERP, akan mempercepat waktu penyelesaian transaksi dan menjadi lebih efektif dan efisien.
o Degree of business process integration: jika dengan adanya ERP, akan mengintegrasi proses bisnis dengan lebih baik.
o Intra- and inter- organisational information sharing: jika dengan adanya ERP, akan mempermudah pemberian informasi untuk pihak luar dan pihak dalam perusahaan sesuai dengan hak dan kepentingan masing-masing
o Business networks: jika dengan adanya ERP, jaringan bisnis, baik dengan pihak luar ataupun dengan pihak dalam perusahaan, akan menjadi jelas tanggung jawab masing-masing dan lebih tersusun rapi.
o Reporting: jika dengan adanya ERP, kegiatan laporan akan jadi lebih singkat dan up to date serta dapat meminimalisir manipulasi.
o Customer satisfaction: jika dengan adanya ERP, kepuasan konsumen/pelanggan akan meningkat, karena kemudahan dan kelancaran proses seperti di atas.

Estimation of costs due to:
o User resistance: Karena penerapan ERP terkadang terhalang karena resistensi dari pekerja yang disebabkan oleh pandangan mereka yang terkadang suatu perubahan adalah hal yang dirasakan tidak nyaman. Maka dalam melakukan sosialisasi untuk penerapan ERP kepada semua pihak yang berhubungan dengan ERP itu sendiri serta segala proses perubahan ini memerlukan biaya.
o Personnel training: Pelatihan untuk pihak yang sebagai pelaksana perlu untuk dilakukan agar dapat lebih kompeten, oleh karenanya diperlukan adanya biaya yang harus dikeluarkan.
o Eksternal consultan: Konsultan diperlukan untuk sebagai pendamping dalam proses implementasi ERP, agar lebih berjalan sesuai harapan.
o Additional aplications: Analisis penyesuaian aplikasi dalam sistem yang baru setelah implementasi ERP, agar nantinya dapat menunjang sistem tersebut agar berjalan sesuai dengan harapan.
o System Downtime: Analisis sistem akan lebih cepat dan akurat, serta biaya yang dikeluarkan untuk sistem tersebut dan hasilnya.

4. Perbedaan dari proof of concepts dan key requirements pada pemilihan dan implementasi ERP:
proof of concepts: bukti konsep atau hasil yang sebenarnya terjadi setelah konsep yang ada diimplementasikan, dalam hal ini adalah implementasi ERP.
key requirements: standar yang diperlukan untuk melakukan proses implementasi ERP.

5. Posisi opensource ERP jika dibandingkan dengan packaged ERP (SAP, Oracle, Microsoft) jika digunakan pada organisasi adalah posisi opensource ERP dapat digunakan untuk umum karena mudah untuk diakses dan biasanya digunakan oleh organisasi yang relatif kecil, sedangkan packaged ERP lebih banyak digunakan oleh organisasi yang lebih besar, complicated dan memerlukan proses panjang serta memiliki visi jangka panjang yang besar.
6. Hanya dengan pengalaman dari vendor cukup untuk menjadi alasan implementasi apabila memiliki internal proses yang sama. Begitu pula sebaliknya pengalaman dari vendor tidak cukup untuk menjadi alasan implementasi dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan perusahaan dalam implementasi, apabila pada internal prosesnya tidak sama.

7. Workflow ; terdapat 5 unit yang terkait dalam proses pengajuan kredit
Keterangan prosesnya sebagai berikut :
o Aplikasi dari nasabah di compiling datanya dan di analisis debitur oleh account officer (AO)
o Legal officer melakukan Analisis yuridis dan verifikasi, apabila hasil analisis tidak disetujui aplikasi dikembalikan ke AO untuk dilakukan update
o Aplikasi yang diterima diberikan kepada Credit Comitee untuk dilakukan meeting verifikasi. Aplikasi gagal akan dikembalikan ke nasabah
o Aplikasi diterima diberikan kepada credit support untuk dikeluarkannya memo persetujuan kredit
o Memo di konfirmasi ke AO dan nasabah

Business Rules ;
o Persetujuan pengajuan kredit <> 500 juta dilakukan oleh Komisaris
TUGAS
PENGANTAR BISNIS DAN MANAJEMEN
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA


Nama: Helmi Maulia Ridhani
Npm: 1.413.005
Mata Kuliah: Pengantar Bisnis dan Manajemen
Angkatan: XIV
Dosen: Agoestiana Boediprasetya, SE., MT


MAGISTER MANAJEMEN
UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2007



MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

Manajemen kepegawaian dan sumber daya manusia sangat penting bagi perusahaan dalam mengelola, mengatur, dan memanfaatkan pegawai sehingga dapat berfungsi secara produktif untuk tercapainya tujuan perusahaan.
Sumber daya manusia di perusahaan perlu dikelola secara profesional agar terwujud keseimbangan antara kebutuhan pegawai dengan tuntutan dan kemampuan organisasi perusahaan. Keseimbangan tersebut merupakan kunci utama perusahaan agar dapat berkembang secara produktif dan wajar.
Perkembangan usaha dan organisasi perusahaan sangatlah bergantung pada produktivitas tenaga kerja yang ada di perusahaan.
Dengan pengaturan manajemen sumber daya manusia secara profesional, diharapkan pegawai bekerja secara produktif. Pengelolaan pegawai secara profesional ini harus dimulai sejak perekrutan pegawai, penyeleksian, pengklasifikasian, penempatan pegawai sesuai dengan kemampuan, penataran, dan pengembangan kariernya.
Dalam suatu perusahaan, masalah tersebut sudah menjadi hal yang umum. Tidaklah wajar jika banyak pegawai yang secara potensi berkemampuan tinggi tetapi tidak mampu berprestasi dalam kerja. Hal ini dimungkinkan karena kondisi psikologis dari jabatan yang tidak cocok, atau mungkin pula karena lingkungan tempat kerja yang tidak yang tidak membawa rasa aman dan betah bagi dirinya. Sejenak kita berpikir, alangkah rugi negara jika banyak perusahaan yang mempunyai tenaga kerja berpotensi tinggi tetapi tidak mampu bekerja secara produktif. Olah karena itu, tidak dapat disangkal lagi bahwa faktor manusia merupakan modal utama yang perlu diperhatikan oleh pengusaha dan pemimpin perusahaan. Manusia memang berjiwa kompleks dan sangat pelik untuk dipahami karena sangat berbeda dengan mesin dan peralatan kerja lainnya. Kemelut yang berhubungan dengan mesin dengan mudah dapat diperbaiki, tetapi kemelut yang berhubungan dengan pegawai dituntut keahlian untuk mengatasinya.
Untuk mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan kepegawaian dan sumber daya manusia, perusahaan perlu menempatkan tenaga ahli dalam bidang hukum, manajemen, dan psikologi. Para ahli tersebut pada umumnya ditempatkan di bagian personalia atau sebagai staf ahli perusahaan. Dengan adanya tenaga ahli dalam bidang manajemen kepegawaian sumber daya manusia di perusahaan, maka dapat diciptakan iklim kerja yang harmonis. Pegawai-pegawai ditempatkan sesuai dengan keahlian dan kemampuannya, tingkat kerja perusahaan tinggi, motivasi kerja tinggi, partisipasi kerja tinggi komunikasi kerja efektif, disiplin kerja tinggi, upah dan gaji pegawai ditentukan secara adil sesuai dengan jabatan, pendidikan, dan tanggung jawab yang tinggi. Prestasi kerja dievaluasi secara kontinu, pegawai mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan karirnya secara optimal. Dengan demikian, produktivitas kerja dapat dicapai oleh perusahaan.

1. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia merupakan suatu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengadaan, pengembangan, pemberian balas jasa, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemisahaantenaga kerjadalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Manajemen sumber daya manusia dapat didefinisikan pula sebagai suatu pengelolaan dan pendayagunaan sumber daya yang ada pada individu (pegawai). Pengelolaan dan pendayagunaan tersebut dikembangkan secara maksimal di dalam dunia kerja untuk mencapai tujuan organisasidan pengembangan individu pegawai.

2. Fungsi Operatif Manajemen Sumber Daya Manusia
Terdapat enam fungsi operatif manajemn sumber daya manusia, yaitu berikut ini.
1. Pengadaan tenaga kerja terdiri dari:
  •      perencanaan sumber daya manusia
  •      analisis jabatan
  •      penarikan pegawai
  •      penempatan kerja
  •      orientasi kerja (job orientation)

2. Pengembangan tenaga kerja mencakup:
  •       pendidikan dan pelatihan (training and development)
  •       pengembangan (karier)
  •       penilaian prestasi kerja
3. Pemberian balas jasa mencakup:
  •       Balas jasa langsung terdiri dari:
                - gaji/upah
                - insentif
  •       Balas jasa tak langsung terdiri dari:
                - keuntungan (benefit)
                - pelayanan/kesehatan (services)

4. Integrasi mencakup:
  •        kebutuhan karyawan
  •        motivasi karyawan
  •        kepuasan kerja
  •        disiplin kerja
  •        partisipasi kerja 

5. Pemeliharaan tenaga kerja mencakup:
  •       komunikasi kerja
  •       kesehatan dan keselamatan kerja
  •       pengandalian konflik kerja
  •       konseling kerja

6. Pemisahan tenaga kerja mencakup:
  •      Pemberhentian Karyawan


(Anwar Prabu Mangkunegara, (2005), Manajemen Sumber Daya Manusia, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.)

Rangkuman buku E-commerce (Bab IV)

Building An E-Commerce Web Site

The two most important management challenges in building a successfull e-commerce site are:
1. Developing a clear understanding of your bussiness objectives and
2. Knowing how to choose the right technology to achieve those objectives

Pieces Of The Site-Building Puzzle
Let’s assume you are a manager for a medium sized, industrial parts firm of around 10,000 employees worldwide, operating in ten countries in Europe, Asia, and North America. Senior management has given you a budget of $1 million to build an e-commerce site within one year. The purpose of this site will be to sell and service the firm’s 20,000 customers, who are mostly small machine and metal fabricating shops around the world.
1. You must be aware of the main areas where you will need to make decisions. On the organizational and human resources front, you will have to bring together a team of individuals who possess the skill sets needed to build and manage a successfull e-commerce site. This team will make the key decisions about technology, site design, and the social and information policies that will be applied at your site. The entire site development effort must be closely managed if you hope to avoid that disasters that have occurred at some firms.
2. You will also need to make decisions about your site’s hardware, software, and telecommunications infrastructure. While you will have technical advisors help you make this decisions, ultimately the operation of the site is your responsibility. The demands of your customers should drive your choices of technology. Your customers will want technology that enables them to find what their want easily, view the product, purchase the product, and then receive the product from your warehouse quickly. You will also carefully have to consider your site’s design. Once you have identified the key decision areas, you will need to think about a plan for the project.

Planning: The Systems Development Life Cycle
One methodology for developing an e-commerce site plan is the systems development life cycle. The system development life cycle (SDLC) is a methodology for understanding the business objectives of any system and designing an appropriate solution. The five major steps involved in the systems development life cycle for an e-commerce site are:
1. Systems Analysis/Planning
2. Systems Design
3. Building the System
4. Testing
5. Implementation

Factors In Optimizing Web Site Performance
The purpose of a Web site is to deliver content to customers and to complete transactions. The faster and more reliably these two objectives are met, the more effective the Web site is from a commerce perspective. The optimization of web site performance is more complicated than it seems and involved three factors: page content, page generation, and page delivery.

Web Site Budgets
While how much you spend to build a Web site depends on how much you can afford, and, of course, the size of the opportunity. Web site costs according to a survey of 125 Web site managers. About 75% of the costs of Web sites involved technology cost-development, software licenses, and hardware. About 18% of costs will be for design and development, and 6% for marketing the site. (Source: Jupiter Media Metrix, 2002)

Choosing Server Software
What you able to do at an e-commerce site is largely a function of the software. As a business manager in charge of building the site, you will need to know some basic information about e-commerce software. The more sophisticated the software and the more ways you can sell goods and services, the more effective your business will be.

Simple Versus Multi-Tiered Web Site Architecture
Prior to development of e-commerce, Web sites simply delivered Web pages to users who were making requests through their browser for HTML pages. Web site software was appropriately quite simple-it consisted of a server computer running basic Web server software. We might call this arrangement a single-tier system architecture. System architecture refers to arrangement of software, machinery, and tasks in an information system needed to achieve a spesific functionality (much like a home’s architecture refers to arrangement of building materials to achieve a particular functionality).
In addition to having specialized application servers, e-commerce sites must be able to pull information from and add information to pre-existing corporate databases. These older databases that predate the e-commerce era are called backend or legacy databases. Corporation have made massive investments in these systems to store their information on customers, products, employees, and vendors. These backend systems constitute an additional layer in a multi-tiered site.
In two-tier architecture, a Web server responds to requests for Web pages and a database server provides backend data storage. In a multi-tier architecture, in contrast, the Web server is linked to a middle-tier layer that typically includes a series of application servers that perform specific, tasks, as well as to a backend layer of existing corporate systems containing product, customer, and pricing information. A multi-tiered site typically employs several or more physical computers, each running some of the software applications and sharing the work load across many physical computers.

The nine basic business and system functionalities an e-commerce site should contain include:
• Digital catalog-allows a site to display goods using text and graphics.
• Product database-provides product information, such as a description, stocking number, and inventory level.
• Customer on-site traking-ebables a site to create a site log for each customer visit, aiding in personalizing the shopping experience and identifying common customer paths and destination.
• Shopping cart/payment system-provides an ordering system, secure credit-card clearing, and other payment options.
• Customer database-include customer information such as the name, address, phone number, and e-mail address.
• Sales database-contain information regarding the customer ID, product purchased, date, payment, and shipment to be able to provide after-sale customer support.
• Ad server-tracks the site behavior of prospects and customer that come through e-mail or banner ad campaigns.
• Site tracking and reporting system-monitors the number of unique visitor, page visited, and product purchased.
• Inventory management system-provides a link to production and suppliers in order to facilitate order replenishment.


Describe the major issues surronding the decision to outsource site development and/or hosting.
Advantage of building a site in-house include:
• the ability to change and adapt the site quickly as the market demands, and
• the ability to build a site that does exactly what company needs.
Disadvantage of building a site in-house include:
• the costs may be higher;
• the risks of failures may be greater, given the complexity of issues such as security, privacy, and inventory management;
• the process may be more time-consuming than if you had hired an outside specialist firm to manage the effort; and
• staff may experience a longer learning curve that delays your entry into the market.
Using design templates cuts development time, but pre-set templates can also limit functionality.
A similar decision is also necessary regarding outsourcing the hosting of the site versus keeping it in-home. Relying on an outside vendor to ensure that the site is life twenty-four hours a day places the burden of reliability on someone else, in return for a monthly hosting fee. The downside is that if the site requires fast upgrades due to heavy traffic, the chosen hosting company may or may not be capable of keeping up. Reliability versus scalability are the issues in this instance.

Identify and understand the major considerations involved in choosing Web server and e-commerce merchant server software.
Early Web sites used single-tier system architecture and consisted of a single-server computer that delivered static. Web pages to users making requests through their browsers. The extended functionality of today’s Web sites required the development of a multi-tiered systems architecture, which utilizes a variety of specialized Web servers, as well as link to pre-existing “backend” or “legacy” corporate databases.
All e-commerce site require basic Web server software to answer requests from customer for HTML and XML pages. When choosing Web server software, companies are also choosing what operating system the site will run on; Apache, which runs on the UNIX system, is the market leader.

Web server provide a host of services, including
• processing user HTML requests
• security services
• file transfer protocol
• search engine
• data engine
• e-mail
• site management tools

Dynamic server software allows sites to deliver dynamic content, rather than static, unchanging information. Web application server programs enable a wide range of e-commerce functionality, including creating a customer database, creating an e-mail promotional program, accepting and processing orders, as well as many other services.

E-commerce merchant server software is another important software package that provides catalog displays, information storage and customer tracking, order taking (shopping cart), and credit card puchase processing. E-commerce suites can save time and money, but customization can significantly drive up costs. Factors to consider when choosing an e-commerce suite include the functionality, support for different business models, visual site management tools and reporting system, performance and scalability, connectivity to existing business systems, compliance with standards, and global and multicultural capability.

Understand the issues involved in choosing the most appropriate hardware for an commerce site.
Speed, capacity, and scalability are three of the most important considerations when selecting an operating system, and therefore the hardware that it runs on.
To evaluate how fast the site needs to be, companies need to assess the number of simultaneous users the site espects to see, the nature of their requests, the type of information requested, and the bandwidth available to the site. The answer to these question will provides guidance regarding the processors necessary to meet customer demand. In some cases, adding additional processing power can add capacity, thereby improving system speed.
Scalability is also an important issue. Increasing processing supply by scaling up to meet demand can be done through:
• vertical scaling-improving the processing power of the hardware, but maintaining the same number of servers;
• Horizontal scaling-adding more of the same processing hardware; and
• Improving processing architecture-identifying opretions with similar workloads and using dedicated tuned servers for each type of load.

Identify additional tools that can can improve Web site performance.
In addition to providing a speedy Web site, companies must also strive to have a well-designed site that encourages visitors to buy. Building in interactivity improves site effectiveness, as does personalization technique that provide the ability to track customers while they are visiting the site. Commonly used software tools for achieving high levels of Web site interactivity and customer personalization include:
• Common gateway interface (CGI) scripts-a set of standards for communication between a browser and a program on a server that allows for interaction between the user and the server.
• Active Server Pages (ASP)-a Microsoft tool that also permits interaction between the browser and the server.
• Java applets-programs written in Java programming language that also provide interactivity.
• JavaScript-used to validate user input, such as an e-mail address.
• ActiveX and VBScript-Microsoft’s version of Java and JavaScript, respectively.
• Cookies-text files stored on the the user’s hard drive that provide information regarding the user and his or her past experience at a Web site.

Rangkuman buku E-commerce (Bab II)

A successful business models effectively addresses eight key elements:
• Value proposition-how a company’s product or services fulfills the needs of customer. Typical e-commerce value propositions include personalization, customization, convenience, and reduction of product search and price delivery costs.
• Revenue models-how the company plan to make money from its operations. Major e-commerce revenue models include the advertising models, subsciption model, transaction fee model, sales model, and affiliate model.
• Market opportunity-the revenue potential within a company’s intended marketspace.
• Competitive environment-the direct and indirect competitors doing business in the same marketspace, including how many there are and how profitable they are.
• Competitive advantage-the factors that differentiate the business from its competition, enabling it to provide a superior product at a lower cost.
• Market strategy-the plan a company develops that outlines how it will enter a market and attract customers.
• Organizational development- the process of defining all the functions within a business and the skills necessary to perform each job, as well as the process of recruiting and hiring strong employees.
• Management team-the group of individuals retained to guide the company’s growth and expansion.

Decribe the major B2C business models.
• Portal-offers powerfull search tools plus an integrated package of content and services; typically utilizes a combined subscription/advertising revenue/transaction fee model; may be general or specialized (vortal).
• E-tailer-online version of traditional retailer; includes virtual merchants (online retail store only), clicks-and-mortar e-tailers (online distribution channel for a company that also has physical stores); catalog merchants (online version of direct mail catalog); manufacturers selling directly over the Web.
• Content provider-information and entertainment companies that provide digital content over the Web; typically utilizes an advertising, subscription, or affiliate referral fee revenue model.
• Transaction broker-processes online sales transactions; typically utilizes a transaction fee revenue model.
• Market creator-uses Internet technology to create markets that bring buyers and sellers together; typically utilizes a transaction fee revenue model.
• Services provider-offers services online.
• Community provider- provides an online community of like-minded individuals for networking and information sharing; revenue is generated by referral fees, advertising, and subscriptions.

Decribe the major B2B business models.
The major business models used to date in the B2B arena include:
• E-distributor-suplies products directly to individual businesses.
• E-procurement-single firms create digital marketplaces for direct inputs, usually for a vertical industry group.
• Industry consortia-industry-owned vertical industry group.
• Single-firm networks-company-owned private industrial networks to coordinate supply chains with a limited set of partners.
• Industry-wide networks- industry owned private industrial networks to set standars, coordinate supply and logistics for an industry.

Recognize business models in other emerging areas of e-commerce.
A variety of business models can be found in the consumer-to-consumer e-commerce, peer-to-peer e-commerce areas:
• C2C business models connect consumers with other consumers. The most successful has been the market creator business model used by eBay.com and Half.com.
• P2P business models enable consumers to share files and services via the Web without common servers. A challenge has been finding a revenue model that works.
• M-commerce business models take traditional e-commerce models and leverage emerging wireless technologies to permit mobile access to the Web.
• E-commerce enablers’ business models focus on providing the infrastructure necessary for e-commerce companies to exist, grow, and posper.

Understand key business concepts and strategies applicable to e-commerce.
The Internet and the Web have had a major impact on the business environment in last decade, and has affected:
• Industry structure-the nature of players in an industry and their relative bargaining power-by changing the basic of competition among rivals, the barriers to entry, the threat of new substitute products, the strenght of suppliers, and the bargaining power of buyers.
• Industry value chains-the set of activities performed in an industry by suppliers, manufacturers, transporters, distributors and retailers that transforms raw inputs into final products and services-by reducing the cost of information and other trensaction costs.
• Firm value chains-the set of activities performed within an individual firm to create final products from raw inputs-by increasing operational efficiency.
• Business strategy-a set of plans for achieving superior long-term returns on the capital invested in a firm-by offering unique ways to differentiate products, obtain cost advantages, compete globally, or compete in narrow market or product segment.

Rangkuman buku E-commerce (Bab I)

Rangkuman dari buku E-commerce: business, technology, society karangan Kenneth C. Laudon dan Carol Guercio Traver

Rangkuman Bab I

What is E-Commerce?
E-Commerce-The use of the Internet and Web to transact business. Digitally enabled transactions include all transactions mediated by digital technology. For the most part, this means transactions that occur over the Internet and the Web. Coomercial transactions involve the exchangeof value (e.g., money) across organizational or individual boundaries in return for products and services. Exchange of value is important for understanding the limits of e-commerce. Without and exchange of values, no commerce occurs.

Why Study E-Commerce?
Prior to the development of e-commerce, the process of marketing and selling goods was a mass-marketing and sales force-driven process. Consumers were viewed as passive targets of advertising “campaigns” and branding blitzes intended to influence their long-term product perceptions and immidiate purchasing behavior. Selling was conducted in well-insulated “channels.” Consumers were considered to be trapped by geographical and social boundaries, unable to search widely for the best price and quality. Information about prices, costs, and fees could be hidden from the consumer, creating profitable “information asymmetries” for selling firm. Information asymmetry refers to any disparity ini relevant market information among parties in a transaction. It was so expensive to change national or regional prices in traditional retailing (what are called menu costs) that “one national price” was norm, and dynamic pricing to the marketplace-changing prices in real time-was unheard of.

Seven Unique Features of E-Commerce Technology

1. Ubiquity
E-Commerce is ubiquitous, meaning that is it available just about everywhere, at all times
2. Global Reach
E-commerce technology permits commercial transactions to cross cultural and national boundaries far more conveniently and cost effectively than is true in traditional commerce. As a result, the potential market size for e-commerce merchants is roughly equal to the size of world’s online population (over 500 million in 2003, and growing rapidy, according to the Computer Industry Almanac)
3. Universal Standards
One strikingly unusual feature of e-commerce technologies is that the technical standards of the Internet, and therefore the technical standards for conducting e-commerce, are universal standards-they are shared by all nations around the world. In contrast, most traditional commerce technology differ from one nation to the next.
4. Richness
Information richness refer to the complexity and the content of a message (Evan and Wurster, 1997; 1999). The richness of traditional markets make them a powerfull selling or commercial environtment. Prior to the development of the Web, there was a trade-off between richness and rich: the larger the audience reached, the less rich the message.
5. Interactivity
E-commerce technologies are interactive, meaning they allow for two-way communication between merchant and consumer. Interactivity allows an online merchant to engage a consumer in ways similar to a face-to-face experience, but on a much more massive, global scale.
6. Information Density
The Internet and the Web vastly increase information density-the total amount and quality of information available to all market participants, consumers, and merchant alike. E-commerce technologies reduce information collection, storage, processing, and communication costs. At the same time, these technologies increase greatly the currency, accuracy, and timeliness of information-making information more useful and important than ever. As a result, information becomes more plentiful, cheaper, and of higher quality.
7. Personalization/Customization
E-commerce technologies permit personalization: Merchant can target their marketing messages to specific individuals by adjusting the message to a person’s name, interests, and past purchases. The technology also permits customization-changing the delivered product or service based on a user’s preferences or prior behavior. Given the interactive nature of e-commerce technology, a lot of information about the consumer can be gathered in the marketplace at the moment of purchase. With the increase in information density, a great deal of information about the consumer past purchases and behavior can be stored and used by online merchants.


Types of E-Commerce
There are variety of different types of e-commerce and many different ways to characterize these types.

B2C. The most commonly discussed type of e-commerce is Business-to-Consumer (B2C) e-commerce, in which online businesses attempt to reach individual consumers.

B2B. Business-to-Business (B2B) e-commerce, in which businesses focus on selling to other businesses.

C2C. Consumer-to-Consumer (C2C) e-commerce provides away for consumer to sell to each other, with the help of an online market maker such as the auction site eBay.

P2P. Peer-to-peer technology enables Internet users to share files and computer resources directly without having to go through a central Web server.

M-commerce. Mobile commerce, or M-commerce, refers to the use of wireless digital devices to enable transactions on the Web.

Understand the visions and forces behind the E-commerce I era
The E-commerce I era was a period of explosive growth in e-commerce, beginning in 1995 with the first widespread use of the Web to advertise products and ending in 2000 with collapse in stock market valuations for dot.com ventures. Among the visions for e-commerce expressed during the period were the following:
• For computer scientists, e-commerce was part of their vision of a universal communications and computing environment that everyone on earth could access with cheap, inexpensive computers.
• For economists, e-commerce raised the realistic prospect of a perfect Bertrand market-where price, cost, and quality information are equally distributed-and friction-free commerce.
• For entrepreneurs and their financial backers, e-commerce represented an extraordinary opportunity to earn far above normal returns on investment. Overall, the E-commerce I period was driven largely by visions of profiting from new technology, with the emphasis on quickly achieving very high market visibility. The source of financing was venture capital funds. The ideology of the period emphasized the ungoverned “Wild West” character of the Web and the feeling that government and courts could not possibly limit or regulate the Internet; there was a general belief that traditional corporations were too slow and bureaucratic, too stuck in the old way of doing business to “get it,” that is, to be competitive in e-commerce.

Understand the success and the failures of E-commerce I.
E-commerce during the E-commerce I era was:
• a technological success, with the digital infrastructure created during the period solid enough to sustain significant growth in e-commerce during the next decade.
• a mixed business success, with significant revenue growth and customer usage, but low profit margins.
E-commerce during E-commerce I era did not:
• fullfill economist’s visions of the perfect Bertrand market and friction-free commerce.
• fullfill the visions of entrepreneurs and venture capitalists for first mover advantages, low customer acquisition and retention costs, and low costs of doing business.

Identify several factors that will define the E-commerce II era.
Factor that will define e-commerce over the next five years include the following:
• E-commerce technology will continue to propagate through all commercial activity, with overall revenues from e-commerce, the number of products and services sold over the Web, and the amount of Web traffic all rising.
• E-commerce prices will rise to cover the real cost of doing business on the Web.
• E-commerce margins and profits will rise to levels more typical of all retailers.
• Traditional well-endowed and experienced Fortune 500 companies will play a growing and more dominant role.
• The number of successful e-commerce firms will adopt a mixed “clicks and bricks” strategy.
• Regulation of e-commerce and the Web by government will grow both in the United States and worldwide.

Describe the major themes underlying the study of e-commerce.

E-commerce involves three broad interrelated themes:
• Technology: To understand e-commerce, you need a basic understanding of informatin technologies upon which it is built, including the Internet and the World Wide Web, and a host of complimentary technologies-personal computers, local are networks, client/server computing, packet-switched communications, protocols such as TCP/IP, Web servers, HTML, and relational database among others.
• Business: While technology provides the infrastructure, it is the business applications-potensial for extraordinary returns on investment-that create the interest and excitement in e-commerce. New technologies present businesses and entrepreneurs with new ways of organizing production and transacting business. Therefore, you also need to understand some key business concept such as electronic markets, information goods, business models, firm and industry value chains, industry structure, and consumer behavior in electronic markets.
• Society: Understanding the pressures that global e-commerce places on contemporary society is critical to being successful in the e-commerce marketplace. The primary societal issues are intelectual property, individual privacy, and public policy.

Identify the major academic disciplines contributing to e-commerce research.
There are two primary approaches to e-commerce: technical and behavioral. Each of these approaches is represented by several academic disciplines. On the technical side:
• Computer scientists are interested in e-commerce as an application of Internet technology.
• Management scientists are primarily interested in building mathematical models of business processes and optimizing them to learn how businesses can exploit the Internet to improve their business of operations.
• Information systems professionals are interested in e-commerce because of its implications for firm and industry values chains, industry structure, and corporate strategy.
• Economists have focused on consumer behavior at Web sites, and on the features of digital electronic markets.

On behavioral side:
• Sociologists have focused on studies of Internet usage, the role of social inequality in skewing Internet benefits, and the use of the Web as a personal and group communications tool.
• Finance and accounting scholars have focused on e-commerce firm valuation and accounting practices.
• Management scholars have focused on entrepreneurial behavior and the challenges face by young firms who are required to develop organizational structures in short time spans.
• Marketing scholars have focused on consumer response to online marketing and advertising campaigns, and the ability of firms to brand, segment markets, target audiences, and position products to achieve higher returns on investment.

Friday, June 22, 2007

Baru pulang

Baru pulang dari kampus. Tadi sebelum nyampe sini, ketemu sama salah satu temen waktu SMU. Kakaknya baru saja meninggal...saya ikut sedih mendengarnya. Terlihat dari wajah temen saya itu dia masih berduka atas kematian kakaknya...Semoga arwahnya diterima oleh Allah SWT. dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dalam menghadapi musibah ini. Amin.